Minggu, 23 Januari 2011

Resensi


Jingga dan Senja


Penulis    : Esti Kinasih

Penerbit  : PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta, 2010

Tebal       : 307 halaman





Jam tujuh tepat bel berbunyi, tanda upacara akan dimulai.


    Ari melompat turun dari bus yang ditumpanginya. Sambil merutuki motornya yang sudah dua hari masuk bengkel dan taksi kosong, cowok itu berjalan dengan langkah cepat menuju gedung sekolah, meskipun dia tahu sudah terlambat.
    Menjelang mendekati pagar sekolah, Ari berjalan dengan punggungsedikit membungkuk dan tidak bersuara, dengan cermat dipandanginya besi-besi jeruji pagar didepannya dan dengan cepat dia menemukan yang dicari. Menarik salah satu jeruji pagar dengan paksa kemudian menyelinap masuk halaman. Kemudian dengan cepat cowok itu menyelinap ke tengah barisan, berusaha mencapai bagian depan tanpa kentara.
    Kebijakan sekolah, cowok-cowok harus berbaris dibagian depan. Cewek-cewek di belakang.


"mundur dong!" bisik Ari ke cewek terdepan. Tari, cewek berambut panjang dan penuh nuansa oranye itu, menoleh kaget dan langsung mundur selangkah. Cewek-cewek yang berada dibelakangnya terpaksa mengikutinya, Ari segera mengisi tempat kosong itu.


"thanks." Sesaat menoleh kebelakang dan tersenyum. Tari membalasnya dengan ragu.
    Upacara sudah berlangsung dua puluh menit, Ari menoleh kebelakang, dilihatnya Tari sedang menunduk dalam-dalam, menghindari sengatan matahari sebisanya, Mukanya sudah merah, sementara keringat mengalir deras dikedua pelipisnya. Ari mundur selangkah. Dihalanginya sinar matahari itu dengan tubuhnya. Sekali lagi dia menoleh kebelakang, memastikan diri bahwa cewek dibelakangnya telah terlindung sepenuhnya. Tekejut, Tari mengangkat muka. Ditatapnya Ari dengan pandangan bertanya. Cowok itu Cuma tersenyum datar dan mengangkat kedua alisnya.


    Akhirnya upacara bendera selesai. Pada cewek yang selama hamper satu jam ini telah dilindunginya dari panas matahari, Ari menatapnya sesaat kemudian pergi. Yang kini basah kuyup karena keringat, yang telah melindunginya dari panas matahari, Tari terus menatapa kepergiannya dalam ketersimaan.
   Sejak kejadian tadi pagi, Tari tidak bisa melupakannya dan selalu terbayang-bayang si cowok itu. Sampai kemudian tanpa dia sadarai, satu pikiran menyelinap perlahan dan tercetus keluar dalam bentuk bisikan tanpa sadar.


" Tuh cowok cakep ih. Sayang gue nggak tahu nama sama kelasnya."


Tari langsung tercengang.


"Ya ampuuuuuun!" serunya sambil bangkit berdiri. Dengan gemas dibantingnya pensil mekaniknya. "kok gue jadi mikirin dia mulu sih? Hiiiiih! Kacau nih!".


    Dan akhirnya Tari dan teman-temannya memutuskan untuk menyelidiki siapa cowok itu. Tapi sudah seminggu penyelidikan tidak membuahkan hasil.
    Dengan lesu gerombolan pengintai gagal itu melangkah menuju bangku panjang diluar kelas mereka dan menjatuhkan diri disana. Tidak berapa lama nyoman muncul menghampiri teman-temannya dengan langkah tergpopoh. Dan memberitahukan siapa cowok itu.
    Ternyata cowok itu bernama Ari. Nama ngetop di SMA Airlangga. Biang onar sekolah. Salah satu panglima perang saat tawuran, yang berani memimpin teman-temannya sampai kejalan raya, bahkan menyerang sekolah yang dianggap bikin gara-gara. Siswa yang paling sering menyebabkan para guru terserang penyakit kepala, migraine atau darah tinggi.
    Kalimatnya nyoman membuat temannya jadi meringis. Semuanya lalu menganggukan kepala secara bersamaan, kemudian mereka berjalan masuk kelas karena bel sudah berbunyi. Tari masih berdiri ditempatnya. Masih nggak percaya. Karena dilihat Ari sangat baik.
    Tari dan Ari, dua remaja yang dipertemukan oleh takdir. Selain bernama mirip, mereka juga sama-sama lahir waktu matahari terbenam.
    Namun, takdir mempertemukan mereka dalam suasana perang. Ari yang dibilang biang kerok sekolah baru ini bertemu cewek, adik kelas pula, yang berani melawannya. Kemarahan Ari timbul ketika tahu Tari diincar oleh Angga, pentolan SMA musuh.
   Angga, musuh bebuyutan Ari sekaligus musuh pribadi Ari, langsung berusaha mendekati Tari begitu cewek itu tak sengaja terjebak dalam tawuran dan Ari berusaha keras menyelamatkannya. Demi dendam masa lalu, Angga bertekad harus bisa merebut cewek itu. Memanfaatkan peluang yang ada, Angga kemudian maju sebagai pelindung Tari.
    Ari yang selama ini dikenal tidak peduli terhadap cewek tiba-tiba saja berusaha mendapatkan Tari dengan segala cara. Namun, predikat buruk Ari jelas membuat Ari jelas membuat Tari tidak ingin berurusan dengan cowok itu. Semakin Ari berusaha mendekatinya, semakin mati-matian Tari menjauhkan diri…




Bagaimana kelanjutan kisah Tari, Ari, dan Angga? Lihatlah di novel karya Esti kinasih yang berjudul: " JINGGA DALAM ELEGI".








Oleh : Muhammad Ihhsan

Kamis, 04 November 2010

Sejarah Sheila On 7

Grup yang berdiri pada 6 Mei 1996 ini pada awalnya adalah sekumpulan anak-anak sekolah dari beberapa SMA di Yogyakarta. Di awal berdirinya bersatulah lima anak muda, Duta (vokal) berasal dari SMA 4, Adam (bass) dari SMA 6, Eross (gitar) dari SMA Muhammadiyah I, Sakti (gitar) dari SMA De Britto, dan Anton (drum) berasal dari SMA Bopkri I. Mereka sepakat untuk membentuk sebuah band dan membawakan lagu-lagu dari kelompok Oasis, U2, Bon Jovi, Guns N’ Roses, dll. Pada waktu itu juga, mereka telah memiliki beberapa lagu-lagu orisinal karya mereka sendiri dan mereka mencoba untuk memperkenalkan dan membawakan lagu-lagu tersebut dengan penuh rasa percaya diri di berbagai pentas.


Sampai saat ini juga, mereka masih sulit untuk menyebut warna musik apa yang sebenarnya dimainkan. Tetapi satu hal yang jelas adalah bahwa mereka berkeyakinan untuk memainkan “Sheila music”, dimana ide-ide atau kreasi dalam bermusik dimunculkan secara spontan dan menampilkan lirik-lirik yang gampang dicerna serta konsep musik yang sederhana.


Pada awal berdirinya grup ini bernama “Sheila”. Tidak lama kemudian, mereka menambahkan kata “Gank”, hingga jadilah “Sheila Gank”. Namun karena masalah ‘sense’, akhirnya nama mereka berganti menjadi “Sheila on 7”, “on 7” berarti solmisasi alias 7 tangga nada (do re mi fa sol la si).


Sejak awal grup ini mencoba untuk tampil secara profesional. Dimulai dengan keterlibatan mereka dalam beberapa pentas musik, festival maupun pertunjukan komersil di DIY dan Jawa Tengah, baik di lingkup sekolah, kampus, serta panggung umum. Satu hal yang cukup meyakinkan dan membanggakan adalah keikutsertaan mereka dalam program indie label “Ajang Musikal” (Ajang Musisi Lokal) di tahun 1997 milik Radio Geronimo 105.8 FM & G-Indie Production di Yogyakarta, dimana program ini adalah program sindikasi radio yang disiarkan oleh hampir 90 radio swasta di tanah air. Ajang Musikal adalah program radio yang menyiarkan lagu-lagu karya sendiri dari band-band lokal yang belum pernah rekaman komersial.


Dalam program ini mereka mendapat respons yang sangat positif, dimana request dari para pendengar untuk lagu karya mereka sendiri yaitu ‘Kita’, menempatkan mereka selama 3 bulan berturut-turut di tangga lagu Ajang Musikal G-Indie 10 pada bulan Maret, April, dan Mei 1997.


Menunjuk pada hal tersebut, “Sheila on 7” mampu untuk merefleksikan dirinya dan menjadikannya sebagai tolak ukur untuk ke jenjang yang lebih atas lagi yakni rekaman komersial. Dengan penuh keyakinan pula, Sheila on 7 memberanikan diri untuk menawarkan demotape serta proposal ke label Sony Music Indonesia, dan akhirnya kesempatan pun datang dengan dikontraknya Sheila on 7 untuk 8 album dengan sistem royalti.


sumber : sheilaon7.com